Pedagang, saudagar, pengusaha, atau nama apa pun semacam itu dan perantau adalah ciri yang melekat pada kebanyakan orang Bugis dan Makassar, atau suku- suku lain yang ada di Sulsel dan Sulawesi Barat.

Di hampir semua provinsi di Nusantara ini bisa dipastikan ada orang asal Sulsel di situ dengan pekerjaan utama pedagang atau pengusaha. Terbukti saat Pertemuan Saudagar Bugis-Makassar awal November lalu, ratusan perwakilan saudagar Bugis-Makassar yang berasal dari dalam dan luar negeri ikut hadir.

“Sejak zaman dahulu, orang Bugis memang sudah kental dengan sifat perantau. Di perantauan, mereka terkenal punya semangat juang dan semangat hidup lebih besar. Dalam sejarahnya, sejak dulu hingga sekarang, biasanya begitu masuk di suatu daerah mereka langsung menguasai pasar,” kata Ima Kesuma, Kepala Museum Kota Makassar yang banyak melakukan penelitian tentang orang Bugis.

“Menguasai dalam arti berdagang. Biasanya dari berdagang di pasar, mereka kemudian berdagang hasil bumi, bahkan membeli tanah dan bertani atau berkebun. Setelah itu mereka mulai ke usaha lain-lain,” ungkapnya.

Menurut Ima, satu hal yang membuat orang Bugis bisa diterima di mana-mana dan akhirnya cukup mencolok jika sudah berhasil di perantauan adalah semboyan “di mana tanah dipijak di situ langit dijunjung”.

“Kalau orang Bugis sukses di perantauan, mereka akan kaya dan membelanjakan uangnya di perantauan. Mereka membangun rumahnya juga di rantau dan bukan di kampung. Kalaupun mereka menginvestasi di kampung, biasanya hanya sedikit. Itu pun biasanya dalam bentuk membangun masjid, membangun rumah orangtua, atau semacam itu. Orang Bugis biasanya berprinsip di mana mereka merasa tenang dan nyaman hidup sekaligus berusaha, itulah yang dianggap tanah mereka,” papar Ima.

Kesemua itu pula agaknya yang membuat Christian Pelras, seorang Perancis, akhirnya meneliti orang Bugis, bahkan membuat buku The Bugis. Padahal, awalnya Pelras mau melakukan penelitian tentang budaya Melayu di Malaysia.

“Orang Bugis sebenarnya bukan pelaut, tetapi pedagang. Yang lebih pantas disebut pelaut adalah orang Mandar (suku di Sulawesi Barat). Namun, yang kemudian membuat orang Bugis terkenal sebagai pelaut karena dalam berdagang, mereka banyak menggunakan jalur laut. Mau tidak mau agar sukses sebagai pedagang, mereka juga harus menguasai jalur laut. Makanya mereka juga terkenal tangguh di laut,” papar Pelras.

Itu dibenarkan Edward Poelinggomang, pakar sejarah dari Universitas Hasanuddin. Menurut dia, berbagai laporan dan catatan maupun dokumen di Belanda banyak menyebut kehebatan perdagangan maritim dan Pelabuhan Makassar abad ke-19.

Kata Edward, pada abad ke-17 saudagar-saudagar Bugis/Makassar sudah memiliki Loji (tempat untuk tinggal, berdagang, gudang, dan agen perwakilan) di Manila dan Makau. Dalam catatan sejarah, pedagang Bugis ternyata juga punya andil dalam kemajuan Singapura. Buktinya, kampung pertama yang dibangun di pulau itu adalah Kampung Bugis di daerah Gelam.

Menurut Edward, sebenarnya jika Indonesia dan rakyatnya ingin maju, bercermin pada sejarah dan pengalaman masa lalu, terutama semangat juang dan kegigihan para pendahulu, bukanlah sesuatu yang bodoh. Sayangnya, banyak keteladanan masa lalu yang kini mulai pupus.