Latest Entries »

Suku Kaum Bugis

Suku kaum Bugis merupakan salah satu etnik yang terdapat di dalam kelompok ras berbilang bangsa di negeri Sabah. Kebanyakan suku kaum ini telah menetap di pantai Timur Sabah iaitu di daerah Tawau, Semporna, Kunak dan Lahad Datu.

Dari aspek sosial, suku kaum ini lebih terkenal dengan kerabat pangkat diraja (keturunan dara), mementingkan soal status individu dan persaudaraan sesama keluarga. Dari segi perkahwinan,suku kaum ini lebih suka menjalinkan perkahwinan dengan keluarga terdekat dan perceraian pula merupakan hubungan sosial yang amat tidak disukai oleh suku kaum ini kerana ia meruntuhkan hubungan kekeluargaan dan bertentangan dengan nilai-nilai agama.

Pakaian tradisional suku kaum Bugis.

Pada dasarnya, suku kaum ini kebanyakannya beragama Islam Dari segi aspek budaya, suku kaum Bugis menggunakan dialek sendiri dikenali sebagai ‘Bahasa Ugi’ dan mempunyai tulisan huruf Bugis yang dipanggil ‘aksara’ Bugis. Aksara ini telah wujud sejak abad ke-12 lagi sewaktu melebarnya pengaruh Hindu di Kepulauan Indonesia.

Aksara Bugis.

Sejarah kedatangan suku kaum Bugis di Sabah (Tawau khususnya) berkaitan dengan sejarah penerokaan Tawau. Adalah dipercayai suku kaum ini telah meninggalkan Kepulauan Sulawesi menuju ke Pulau Jawa, Sumatera, Semenanjung Malaysia, Kalimantan dan Borneo sejak abad ke-16 lagi.

Tahun 1840 dijadikan sebagai fakta kukuh untuk menyatakan tempat permulaan penerokaan Tawau oleh suku kaum Bugis. Penempatan awal oleh suku kaum Bugis ini bermula di kawasan yang dikenali sebagai Ranggu. Ini bermakna suku kaum Bugis sudah pun menerokai kawasan Tawau dan menjadikan Ranggu sebagai salah satu destinasi untuk berulang-alik ke Indonesia menjadi pedagang dan membawa masuk pekerja buruh ke ladang-ladang milik kerajaan British ketika itu. Apapun, Ranggu diasaskan oleh nenek Penghulu K.K. Salim di Kampung Sungai Imam, Bombalai.

Kemudian seorang lagi bangsa Bugis dari kerabat diraja Bone bernama Petta Senong menetap di Sungai Imam, Bombalai. Usaha mereka ketika itu adalah sebagai orang upahan kepada Kerajaan Sulu untuk menghapuskan sebanyak mungkin lanun-lanun yang bergerak di perairan Laut Sulu, Borneo.

Kemudian, beberapa kawasan baru terus diterokai oleh suku kaum Bugis dan kawasan yang termasuk dalam tapak pembangunan Bandar Tawau. Antara suku kaum Bugis yang terlibat dalam penerokaan bandar Tawau ialah Puang Ado, Daeng Mappata, Wak Neke, Wak Gempe dan Haji Osman.

Di antara tarian-tarian suku kaum Bugis.

Konsep siri masiri (malu, menjaga maruah)yang dikaitkan dengan kata-kata suku kaum Bugis antara lainnya :

“…aja mumae’lo nabe’tta taue’ makkalla ‘ ricappa’na lete’ngnge…”.

Maksud terjemahannya : Janganlah engkau mahu didahului orang menginjakkan kaki dihujung titian ( Janganlah engkau mahu didahului orang lain untuk mengambil rezeki ).

“…naia riasengage’ to warrani maperengnge’ nare’kko moloio roppo-roppo ri laommu, rewe’ko paimeng sappa laleng molai…”.

Maksud terjemahannya : Yang disebut orang berani ialah yang kuat dan unggul bertahan, Jikalau engkau menghadapi rintangan berat yang engkau tak dapat lalui atau atasi, kembalilah memikirkan jalan atau cara untuk mengatasinya.

 

Tulolona Sulawesi

Malabbiri memang tongngi
Tulolona Sulawesi
Mabbaji ampe mabbaji ampe
Alusu’ ri pangadakang

Tulolona Sulawesi..
Tulolona Sulawesi..

Malabbiri memang tongngi
Tulolona sulawesi
Mabbaju bodo mabbaju bodo
Nakingking lipa’ sabbena..

Sepenggal lirik lagu yang menggambarkan seorang dara mengenakan baju bodo dan lipa’ sabbe.

Baju bodo adalah baju adat Bugis-Makassar yang dikenakan oleh perempuan. Sedangkan Lipa’ sabbe adalah sarung sutra, biasanya bercorak kotak dan dipakai sebagai bawahan baju bodo.

Konon dahulu kala, ada peraturan mengenai pemakaian baju bodo. Masing-masing warna manunjukkan tingkat usia perempuan yang mengenakannya.
1. Warna jingga, dipakai oleh perempuan umur 10 tahun.
2. Warna jingga dan merah darah digunakan oleh perempuan umur 10-14 tahun.
3. Warna merah darah untuk 17-25 tahun.
4. Warna putih digunakan oleh para inang dan dukun.
5. Warna hijau diperuntukkan bagi puteri bangsawan
6. Warna ungu dipakai oleh para janda.

Selain peraturan pemakaian baju bodo itu, dahulu juga masih sering didapati perempuan Bugis-Makassar yang mengenakan Baju Bodo sebagai pakaian pesta, misalnya pada pesta pernikahan. Akan tetapi saat ini, baju adat ini sudah semakin terkikis oleh perubahan zaman. Baju bodo kini terpinggirkan, digantikan oleh kebaya modern, gaun malam yang katanya modis, atau busana-busana yang lebih simpel dan mengikuti trend.

Walau dengan keterpinggirannya, Baju bodo kini tetap dikenakan oleh mempelai perempuan dalam resepsi pernikahan ataupun akad nikah. Begitu pula untuk passappi’-nya (Pendamping mempelai, biasanya anak-anak). Juga digunakan oleh pagar ayu.
(dari berbagai sumber)

Galigo Bugis

Galigo Bugis adalah suatu forum diskusi, tentang Galigo atau pepatah Bugis Kuno, ada Sulesana Ogi, Akke Ada, Lecco-lecco ada, darari ataupun elong-kelong Bugis.

Arti logo Galigo Bugis

Emblem

  • Emblem di letakkan di atas alas Kuning Emas : Bermakna meletakkan warisan nilai-nilai kearifan-kebijakan-petuah-pegangan hidup di atas…semangat keilmuan dan semangat hidup yang tinggi berlandaskan keagungannilai-nilai Siri’ Na Pesse yang dilatari nilai petuah Toddo Puli Temmalara. View full article »

SEMPUGI

Group SEMPUGI. Merupakan wadah untuk belajar dan berbagi pengetahuan tentang Sejarah dan Budaya Bugis, serta untuk menjalin Silaturahmi antar sesama masyarakat Bugis,baik ditanah bugis maupun ditanah rantau

Arti lambang SEMPUGI

Bentuk bulat telur :

  1. Simbolitas dari assipetangngareng=musyawarah. Akar demokrasi orang bugis yang dikenal dengan istilah Mallibu Itello,yang intinya adalah penghargaan atas perbedaan pendapat yang melahirkan kekuatan,bukan perpecahan.
  2. Simbolitas dari kehidupan
  3. Simbolitas dari dunia atas/botinglangi=telur rebus dan dunia bawah/paretiwi=telur mentah
  4. Simbolitas dari persaksian Dewata SeuwaE dalam perjanjian (Ulu-Ada)

Bintang Tujuh

  1. Simbolitas dari Worongporongnge, salah satu rasi dalam masyarakat bugis dan digunakan untuk pertanda musim pertanian
  2. Simbolitas tujuh lapis langit (spiritualitas)

Payung

  1. Melambangkan kemuliaan To Manurung yang menaungi dan melindungi rakyat

Sepasang Tappi (Keris)

  1. Tappi (Keris) yang berlekuk (Lamba) 5 adalah ciri khas Tappi bugis
  2. Sepasang Tappi (Keris) menandakan keseimbangan kata dan perbuatan
  3. Arah kebawah berarti kerendahan hati

Wala suji

  1. Melambangkan eppa sulapa yang merupakan konsepsi kemanusiaan bagi orang bugis
  2. Melambangkan penjagaan dan perlindungan

Warna

  1. Dominasi biru yang berarti mengutamakan persahabatan dan silaturahmi
  2. Hijau melambangkan kesuburan dan kehidupan. Hijau adalah salah satu warna dari jubah To Manurung
  3. Kuning melambangkan kejayaan dan kemuliaan. Seperti halnya Hijau, warna kuning adalah salah satu warna jubah To Manurung

Tulisan

  1. Tulisan Siri Na Pesse dalam huruf lontara yang merupakan pegangan hidup orang bugis
  2. Tulisan SEMPUGI yang berasal dari Sumpung + Ugi, secara harafiah berarti kekerabatan sesama masyarakat Bugis tanpa dibatasi oleh wilayah administrasi kabupaten, provinsi bahkan negara

Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar didirikan pada tanggal 23 Juni 1954 dan ditinjau dari segi usia UMI merupakan Perguruan Tinggi tertua dikawasan timur Indonesia dan sekaligus merupakan Perguruan Tinggi Swasta terbesar dikawasan timur Indonesia dan menjadi kebanggan Ummat Muslim Sulawesi Selatan.
Universitas Muslim Indonesia diselenggarakan oleh masyarakat dalam bentuk Yayasan yakni Yayasan Badan Wakaf UMI, bergerak dibidang pendidikan dan dakwah. Dalam jalur pendidikan UMI membina pendidikan akademik mulai dari strata Diploma 1, Diploma 2, Diploma 3, Strata satu (S.1) dan Strata dua (S.2), yang tergabung dalam 12 Fakultas dan satu Akademi, 58 Program Studi. Hingga Tahun Akademik 2003/2004 Student Body Unversitas Muslim Indonesia Makassar yang didukung dengan Tenaga Pengajar penuh waktu (dosen tetap) 371 orang, DPK 125 orang, LB 239 orang dan Pegawai Administrasi 282 orang.

Hadirnya lembaga Pendidikan Tinggi yang  View full article »

Oleh: Sri Andalas

  • Dialek Melayu Makassar

Bahasa tempatan di Provinsi Sulawesi Selatan sebenarnya cukup banyak dan sangat berbeda satu sama lain. Diantaranya Bahasa Makassar (ditutur Puak Makassar mereka asalnya di kota Makasssar, Sunnguminasa/Gowa, Takalar, Jeneponto, Bantaeng, Bulukumba, Sinjai); lalu Bahasa Bugis (dituturkan puak Bugis yang berasal dari Maros, Pangkep, Barru, Sidrap, Pinrang, Pare-pare, Enrekang, Mamuju, Bone).
View full article »

la sinrang

La Sinrang dilahirkan sekitar tahun 1856 di dolangeng, yaitu sebuah daerah yang terletak kira – kira 17 km sebelah selatan kota pinrang. Ayahnya bernama La Tamma Addatuan Sawito, dan ibunya bernama I Raima (keturunan rakyat biasa) yang berasal dari Dolangeng. 

La sirang tampil melawan Belanda pada sekitar tahun 1903, Belanda kewalahan dikarenakan La Sinrang Menggunakan taktik gerilya belum lagi llasinrang berkerja sama dengan kerajaan kerajaan Gowa, setelah berbagai usaha untuk menghentikan gerakan perlawanan La Sinrang, maka pada tangal 25 juli 1906 ayah dan isteri La Sinrang ditangkap dan diancam akan disiksa oleh Belanda kalau La Sinrang tidak menyerahkan diri ke belanda, akhirnya pada bulan juli 1906, datanglah La Sinrang bersama pasukanya yang berjumlah sekitar 100 orang, dan akhirnya ayah dan istrinya di bebaskan, lasinrang diasingkan ke banyumas di pulau jawadan dibebaskan/kembali ke Sawitto dalam kedaan sakit dan lanjut usia. Lasinrang wafat pada tanggal 29 Oktober 1938 dan dimakamkan di Amassangeng yang View full article »

Dituturkan : A.Makmur Makka

Hal yang juga menarik dari buku Christian Pelras, ketika ia menulis bahwa Bacukiki benar sebagai Bandar (laut) utama di Sulawesi-Selatan, bahkan ketika Gowa belum ditulis dalam sebuah peta yang dibuat ekpedisi Portugis ketika itu. Peta yang hanya ditulis tangan ini dibuat setelah pelayaran Antonio de Paiva (l544) ke Sulawesi-Selatan. Pada peta itu tertulis “ Description chorological de Macazar” Disepanjang pantai barat dalam peta itu tertulis “BUGUIS”. Dalam peta berderet dari utara ditulis Mandar, linta (Alitta),SUPA ( Suppa) dan Machoquique (Bacukiki). Tulisan Machoquique ( Bacukiki) berhadapan dengan gambar sebuah jangkar, yang menurut Pelras seolah menggambarkan bahwa banda tersebut menjadi bandar utama Portugis. Sayang peta tersebut menurut Pelras mungkijn dibuat oleh orang yang belum pernah melihat situasi daerah itu sebenarnya. Gambar itu hanya dibuat berdasarkan pelukisan orang lain, karena lokasi Bacukiki dilukis View full article »

Sejarah tanah air dari Bugis adalah daerah sekitar Danau Tempe dan Danau Sidenreng di Walennae Depresi di barat daya Semenanjung. Di sinilah bahwa nenek moyang zaman sekarang Bugis menetap, mungkin pada pertengahan sampai akhir milenium kedua SM.

Daerah kaya ikan dan satwa liar dan fluktuasi tahunan dari Danau Tempe (a reservoir danau untuk Walennae Bila dan sungai) memungkinkan spekulatif basah menanam padi, sementara bukit-bukit dapat bertani dengan budidaya orshifting ladang, sawah, mengumpulkan dan perburuan . Sekitar tahun 1200 bergengsi ketersediaan barang-barang impor termasuk Cina dan Asia Tenggara keramik dan Gujarat print-blok tekstil, ditambah dengan yang baru ditemukan sumber bijih besi di Luwu mendorong revolusi agraria yang berkembang dari danau besar wilayah dataran rendah ke dataran di sebelah timur , selatan dan barat dari Walennae depresi. Hal ini menyebabkan selama 400 tahun dengan perkembangan kerajaan-kerajaan utama Sulawesi Selatan, dan transformasi sosial masyarakat terutama ke negara-proto hirarkis.

Present Lifestyle Kebanyakan saat ini sekarang Bugis mencari nafkah sebagai petani padi, pedagang atau nelayan. Wanita membantu dengan siklus pertanian dan bekerja di rumah. Beberapa wanita masih menenun sarung sutra dikenakan pada acara-acara meriah oleh laki-laki dan perempuan. Kebanyakan Bugis tinggal di rumah-rumah kaku, kadang-kadang tiga meter (9 kaki) atau lebih dari tanah, dengan dinding papan dan lantai. Selama musim View full article »

Tiga Orang Datuk asal Minangkabau Penyebar Islam di Tanah Bugis

Walaupun banyak yang sudah tahu, bahwasanya ada tiga orang datuk yang berasal dari Minangkabau itu – paling tidak berasal dari tanah Sumatera, yang mengislamkan wilayah-wilayah kerajaan di Sulawesi Selatan pada abad 16, yaitu :

1. Khatib Tunggal Datuk Makmur, atau populer di kalangan masyarakat Sulsel dengan nama Datuk Ribandang.

2. Khatib Sulung Datuk Sulaiman dikenal Datuk Patimang.

3. Syekh Nurdin Ariyani dikenal dengan nama Datuk RiTiro. Akan tetapi penulis yakin masih banyak generasi muda minang yang belum mendapat informasi seputar jasa tiga orang datuk dari Minangkabau, yang menyebarkan agama islam di Sulawesi Selatan.

Dari berbagai sumber, penulis berhasrat menyampaikan perihal tiga orang datuk yang disebut-sebut dari Minangkabau serta sebelumnya penulis tertegun didalam hati – adakah tiga orang datuk ini – masuk dalam bagian sejarah di Minangkabau ? Apa dan bagaimana perjuangan dan kiprah mereka dalam penyebaran agama islam di Sulawesi Selatan ini ? Berikut ini saya mencoba menyimpulkan sebagai berikut : View full article »