Kemarin wkt liat sunset di Losari seorang pria tua, bercelana kain dengan baju batik serta topi di kepala menghampiri saya. Ia mengaku kecopetan sesampainya di terminal Malengkeri dari Bantaeng. Dengan berjalan kaki ia pun tiba disini (losari) dan hendak menuju Daya agar bisa kembali ke kampungnya di Sengkang (jalan kaki???). Tiba-tiba saja dia berucap

“Jammiki bilang-bilang `nak, malu-malu ka`, haji ma bela (sambil membuka topi dan memperlihatkan songkok hajinya)” seketika itu juga saya hendak tertawa – so what gitu loh??? –

Seorang teman menghampiri saya, sang bapak langsung pamit dan berlalu begitu saja. Tampaknya Ia malu jika lebih banyak yang tau, “pak haji kecopetan-pak haji jalan kaki”

Bukan rahasia lagi, orang bugis makassar yang memiliki kadar gengsi yang cukup tinggi oleh karena itu mereka cenderung suka pamer kekayaan, jabatan, gelar akademik dan gelar lainnya yang bersifat ascribe. Gambaran inilah yang disebut pojiale. Orientasinya jelas, untuk mendapatkan apresiasi lebih “wah” dari keadaan sebenarnya.

Tengok misalnya, bagaimana orang bugis makassar kerap kali berlomba-lomba menunaikan ibadah haji, tetapi sebagian diantaranya motif utamanya bukan karena panggilan iman tetapi mengharapkan apresiasi dan lingkungan di sekitarnya.

“Tawwa… haji mi…”

“Anaknya Dg. Kebo mau mi naik haji, kasi` naik haji tommi itu Becce.”

“Asssalamu` Alaikum Pak Haji” (wuih… bangganya…)

Sampe-sampe mereka rela naik ke gunung bawakaraeng dengan tenda seadanya demi mendapatkan gelar “haji”

Acara perkawinan pun kerap dijadikan arena pojiale dan pasang ta`ta`. Misalnya saat penyerahan doe balanca, jumlahnya di umumkan dengan pembesar suara hingga di dengar ratusan orang.

“Banyaknya tawwa, seratus juta…”

“Ai.. seratus juta ji doi balanca na…, nanti baco lima ratus juta gang…”

Selain itu di acara perkawinan kita akan melihat pemandangan orang-orang yang menggunakan dan memamerkan aksesoris termahal yang di milikinya. Seperti toko emas berjalan, beberapa kalung dengan ukuran besar tampak menggelantung di luar baju, beberapa gelang berjejer di tangan, semua jari dihiasi cincin dengan mata berlian, bajunya dilengkapi peniti emas. Baju sengaja dijahit tanpa kain alas agar bisa memamerkan kutang mahalnya bahkan katanya (da pernah liat sendiri) ada daerah yang ibu-ibunya menggunakan tali kutang dari emas. Ck ck ck… (geleng-geleng kepala) jagona mamo…

Oh ya… ada juga pemandangan di desa yang sering menyita perhatian saya. Parabola. Benda ini seolah-olah diagung-agungkan masyarakat meskipun kebutuhan lain yang lebih penting belum terpenuhi. Bahkan saya mendengar kabar bahwa mereka yang punya parabola ini tidak memiliki kualitas MCK yang baik.

“Biar mi ndak punya WC yang penting ada parabola”

Ironisnya, malah ajang gengsi dan pojiale ini kerap terlihat di kampus yang notabene merupakan tempat orang intelek. Dosen-dosen sangat bangga dengan gelarnya yang panjangnya hampir satu meter. Malah kadang mereka murka kalau tidak di panggil tanpa gelar atau gelarnya kurang…

Prof. Dr. Ir. H. M. … … …, M.Sc

Dekan …

Ketua …

Ketua …

Dst..

Inilah gambaran kecil karakter orang bugis makassar yang kadang membuat saya tertawa terkekeh-kekeh melihatnya. Karena saya terlahir dan besar di lingkungan bugis makassar bisa jadi saya pun memiliki karakter tersebut… Aduh matimi ja (tepok jidat..)