INTEGRASI SOPPENG RILAU KE SOPPENG RIAJA HINGGA MUNCULNYA KERAJAAN SOPPENG

Awal keberadaan

Dengan kemunculan Tomanurung dari Sekkanyili’ (Soppeng Riaja) dan Manurunnge dari Goarié (Kerajaan Soppeng Rilau) merupakan fase awal dari ketenangan dan ketentraman masyarakat Soppeng sejak dilanda kemarau yang panjang. Kehidupan masyarakat kedua kerajaan tersebut senantiasa tentram dan damai sebagaimana layaknya dua orang bersaudara kembar. Hal ini tidak mengherankan, karena Kerajaan Soppeng Riaja sebagai pusat aktifitas politik mampu membina secara harmonis hubungan politiknya dan kekeluargaan dengan kerajaan Soppeng Rilau.

Fase kedamaian ini berlangsung hingga kurang lebih 260 tahun lamanya, yaitu mulai tahun 1300 an sebagai masa awal Pemerintahan La Temmamala sebagai Datu I di Soppeng Riaja dan We Temmabubbu sebagai Datu I di Soppeng Rilau hingga terjadinya konflik perselisihan antara Datu La Mataesso Puang Lipué Patolaé dengan Datu La Makkarodda Latenribali masing-masing sebagai Datu di Soppeng Riaja dengan Soppeng Rilau.

Konflik

Menurut catatan dalam naskah lontara dikatakan bahwa, terjadinya konflik ini disebabkan keambisian La Makkarodda untuk menguasai wilayah Soppeng Riaja. Pertikaian ini meningkat menjadi perang saudara. Namun keambisian La Makkarodda ini tidak seluruh kerajaan lili-nya mendukung tindakan yang dilakukan La Makkarodda sehingga saat pecahnya perang saudara ini menyebabkan Kerajaan Soppeng Rilau mengalami kekalahan.
La Makkarodda sebagai Datu Soppeng Rilau tidak puas atas kekalahannya itu. Untuk membalas kekalahannya, dengan kekearasan hati ia terpaksa meninggalkan negerinya untuk mencari sekutu atau bala bantuan dari kerajaan tetangga.

Namun sebelum meninggalkan negerinya, telah datang perutusan dari Soppeng Riaja untuk meminta La Makkarodda agar sudihlah kiranya kembali ke negerinya untuk tetap memegang tampuk ke-Datu-an di Kerajaan Soppeng Rilau. Hal ini ditempu La Mata Esso untuk senantiasa menjaga persatuan dan kekeluargaan antara Kerajaan Sopeng Riaja dengan Kerajaan Soppeng Rilau.

Maksud baik La Mata Esso ditolak mentah-mentah oleh La Makkarodda, “Bessing Passuka, bessing topa parewekka” (saya keluar karena tombak (perang) maka saya pun hanya akan kembali dengan tombak (perang) pula). Itulah jawaban La Makkarodda terhadap perutusan itu hingga ia melanjutkan perjalanannya ke Kerajaan Bone untuk mencari persekutuan dan sekaligus meminta bantuan guna melawan kerajaan Soppeng Riaja. Akan tetapi setelah La Makkarodda mendekati kerajaan Bone, nampaknya niat itu tidak diterima dengan pertimbangan dari pihak Kerajaan Bone : “bila kami mendukung berarti memperpanjang konflik antara kerajaan Soppeng Riaja dengan Soppeng Rilau; disamping itu bila kami memberikan bantuan maka kelak Kerajaan Bone akan menjadi musuh dari Soppeng Riaja.”
Karena rencananya tidak diterima, maka La Makkarodda memutuskan untuk tinggal di wilayah kerajaan Bone hingga suatu ketika La Makkarodda memperistrikan We Tenripakkuwa saudari kandung Raja Bone La Tenrirawe Bongkanngé.

Perkawinan La Makkarodda dengan We Tenripakkuwa berimplikasi terbukanya suatu kesempatan dalam rangka ikatan persahabatan antara kerajaan Bone dengan kerajaan Soppeng. Hal ini tercermin dari ungkapan penasehat Kerajaan Bone Kajao Lalliddong, “Saya merasa senang atas kebijaksanaanmu (taneng-tanengmu) itu menjodohkan adik kandungmu dengan Datu Mario (La Makkadordda). Apabila nantinya ada anak keturunannya kembali ke negeri Soppeng, maka sedapat mungkin diadakan ikatan persaudaraan antara tanah Sopppeng dengan tanah Bone”.

Betapa besar penghargaan Kajao lalliddong selaku penasehat dan diplomat Kerajaan Bone ini untuk mempersaudarakan negeri dan rakyat Kerajaan Bone dengan negeri dan rakyat Kerajaan Soppeng jika kelak dikemudian hari.

Federasi Soppeng Rilau bergabung dengan Soppeng Riaja
Sementara berlangsungnya perselisihan antara Datu Soppeng Riaja La Mataesso dan Datu Soppeng Rilau La Makkkarodda, Arung Umpungeng datang menghadap Datu Soppeng Riaja. Namun sebelum pertemuannya dengan La Mataesso terlebih dahulu diterima oleh La Waniaga Arung Bila. Dalam pertemuan awal dengan Arung Bila itu, Arung Umpungeng menyatakan diri atas nama rakyat Umpungeng beralih ke Soppeng Riaja dan bernaung di bawah payung pemerintahan Datu Soppeng Riaja.

Disampaikan pula maksud kedatangannya, agar diberikan perlindungan oleh Soppeng Riaja, karena mereka tidak sudi bersekutu dengan orang yang berbuat kesalahan (maksudnya La Makkarodda), dan beliaupun bersumpah tidak akan menghianati La Mataesso. Maksud Kedatangan Arung Umpengeng tersebut kemudian disampaikan oleh Arung Bila kepada Datu Soppeng Riaja La Mataesso dan beliaupun bersedia menerimanya pada pertemuan tingkat resmi selanjutnya.

Pada pertemuan tingkat resmi antara Arung Umpungeng dengan La Mataesso, beliau berjanji dan memohon kepada La Mataesso kiranya beliau diperkenankan bernaung di bawah payung kekuasaan Soppeng Riaja dan tidak diperlakukan secara sewenang-wenang. Maksud baik itu diterima dengan penuh ketulusan hati oleh Datu Soppeng Riaja La Mataesso, maka diadakanlah jamuan bersama dengan meminum tuak, hal mana kemudian dijadikan dasar pihak Arung Umpungeng untuk mengucapkan sumpah setianya kepada La Mataesso, “Adapun tuak sudah kuminum, hendaknya janganlah keluar melalui mulut dan tidak pula dengan lubang dubur atau penis, akan tetapi biarkanlah keluar ke samping (usus yang sobek) jika sekiranya aku ingkar janji”. Itulah sumpah setia Arung Umpungeng di hadapan La Mataesso sebagaimana tercantum dalam naskah lontara, dan seketika itu daerah Umpungeng sah berada di bawah payung kekuasaan Soppeng Riaja.

Beralihnya Umpungeng ke dalam wilayah Soppeng Riaja dengan melalui perjanjian politik seperti tersebut di atas, dengan sendirinya secara langsung membawa pengaruh yang sangat berarti dalam proses perkembangan politik dalam negeri Kerajaan Soppeng Rilau. Diantaranya, semakin lemahnya potensi dan kekuatan Soppeng Rilau, sementara kerajaan Soppeng Riaja menjadi semakin kuat. Dengan demikian akhirnya Kerajaan Soppeng Rilau mengalami kekalahan.

Intergrasi

Berkali-kali Datu Soppeng Riaja La Mataesso menempu upaya pedamaian dengan Datu Soppeng Rilau La Makkarodda. Upaya pertama sebagaimana telah dikemukakan di atas, namun upaya itu selalu ditolaknya dengan kekerasan hati. Penolakan ini dilandasi oleh keyakinannya bahwa ia mampu mengalahkan nanti Soppeng Riaja setelah mendapatkan bantuan dari kerajaan Bone mengingat kerajaan Bone waktu itu disamping kerajaan tentangga juga merupakan kerajaan yang sangat berpengaruh dan cukup kuat dari segi pertahanan. Namun bantuan yang diimpikan itu tidak mendapat sambutan dari raja dan para bangsawan di Kerjaan Bone.
Dengan perasaan sangat kecewa Datu La Makkarodda memutuskan untuk tinggal di Kerajaan Bone atas izin Raja Bone La Tenrirawe Bongkannge.

Kemudian tawaran perdamaian kedua diajukan kepadanya untuk kembali memimpin kerajaan Soppeng Rilau setelah La Makkarodda berhasil mempersunting adik kandung Raja Bone La Tenrirawe. Niat baik berdamai ini ditolaknya dengan alasan demi menjaga terjadinya perselisihan dan pertikaian yang mungkin terulang lagi apabila beliau tetap memegang tampuk pemerintahan di Kerajaan Soppeng Rilau.

Perudingan perdamaian pertama dan kedua itu selalu ditawarkan atas inisiatif Datu Soppeng Riaja La Mataesso. Kenapa justru La Mataesso selalu menawarkan perdamaian kepada Datu Soppeng Rilau La Makkarodda untuk kembali memerintah Soppeng Rilau?. Disinilah tercermin bagaimana sikap dan kecintaan Datu Sopeng Riaja yang tetap berusaha menjaga persatuan dan kedamaian antara dua kerajaan. Disamping itu ia berusaha menghindari terjadinya peperangan yang meluas dan berkepanjangan itu dengan melibatkan pihak luar yaitu kerajaan Bone.

Namun dalam perkembangan selanjutnya ketika perundingan ketiga terjadi sangat berbeda sebelumnya, karena ternyata atas inisiatif Datu Soppeng Rilau La Makkarodda sendiri yang berinisiatif untuk melakukan perdamaian dengan Soppeng Riaja. Kesungguhan hati La Makkarodda untuk berdamai dengan La Mataesso dapat disimak dari makna sumpah dan janjinnya ketika bertemu dengan Topaccaleppa Taautongennge (penasehat kerajaan) dan juga ketika beliau bertemu dengan Datu La Mataesso. Dalam pertemuannya itu, beliau bersumpah dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya yang sudah berlalu, yakni berniat tidak baik terhadap Kerajaan Soppeng Riaja, bahkan beliau juga mengajukan permohonan untuk kembali bermukim di Wilayah Kerajaan Soppeng tanpa memegang jabatan dan kedudukan apa pun. Mengenai soal tahta kerajaan di Soppeng baik di Soppeng Rilau maupun di Soppeng Riaja beliau juga berpesan kepada seluruh anak keturunannya kelak agar tidak menginginkannya lagi. Akan tetapi pada waktu itu tiba-tiba Datu Soppeng Riaja La Mataesso memegang tangannya La Makkarodda, sambil berkata, “saya kecualikan apabila terjalin ikatan tali perkawinan di antara anak cucu kita kelak di kemudian hari”.

Selanjutnya, pada waktu yang telah ditentukan, bersidanglah Dewan Adat yang dihadiri oleh rakyat dari Soppeng Rilau dan Soppeng Riaja. Dari pertemuan tersebut mereka melakukan upacara Mallamung Patue sebagai simbol ikatan perjanjian persahabatan antara La Makkarodda dan La Mataesso yang kemudian ditanam secara bersama-sama yang dipersaksikan kepada Dewata Seuwae (Tuhan Yang Esa) dan keduanya berjanji’ “Barangsiapa di antara kita yang ingkar janji, maka akan ditindih oleh batu itu serta tidak akan mendapatkan kebaikan sampai kepada anak keturunannya kelak”.

Dengan selesainya tahapan perjanjian perdamaian yang ketiga antara La Makkarodda dengan Lamataesso maka Soppeng memasuki era baru, yakni ditandai dengan berakhirnya kerajaan kembar di Soppeng dan selanjutnya menjadi satu kesatuan tunggal (mabbulo peppa) di bawah satu panji kebesaran dan satu orang raja berdaulat sebagai pemegang tampuk pemerintahan yaitu, “Kerajaan Soppeng”.

Sebagai hasil keputusan Dewan Adat maka diangkatlah La Mataesso Puang Lipue Patolae sebagai Datu Soppeng Bersatu (1560) dan La Makkarodda Totenribali diangkat menjadi pangepa’ (Perdana Menteri) Kerajaan Soppeng. Setelah kerajaan Soppeng Rilau berintegrasi dengan Soppeng Riaja, maka pusat kerajaan dipusatkan di Laleng Benteng.

Integrasi Kerajaan Soppeng Rilau ke dalam Soppeng Riaja, merupakan suatu proses penyatuan komponen-komponen sosial kultural yang berbeda-beda kedalam satu hubungan dan jalinan yang terintegrasi serta menjadi kebulatan yang utuh untuk mencapai suatu identitas baru sebagai suatu kerajaan yang bersatu. Ini berarti, bahwa integrasi bukanlah merupakan konkolusi dari komponen-komponen yang berbeda-beda saja, tetapi juga yang paling esensial adalah semangat laten dan konkret yang dapat dimanifestasikan ke dalam suatu tindakan nyata untuk mencapai tujuan tertentu, yaitu “perdamaian”.

Refleksi

Dari perang saudara yang pernah terjadi itu telah mengajarkan kita tiga hal :

1. Antara La Makkarodda dan Mataesso adalah pemimpin yang visioner, mampu melihat ke depan bagaimana membuat perencanaan strategis jangka panjang agar kedua rumpun rakyatnya kian maju, bukan terprosok mundur ke lembah perang saudara. Keduanya telah berpikir jauh menembus batas kepentingan generasinya. Capaian visinya tergambar dari kerelaan meleburkan kedua identias kerajaannya menjadi kerajaan Soppeng.
2. Mampu menggerakkan orang-orang terdekatnya sehingga muncul teamwork yang solid dan antusias untuk melaksanakan visinya.
3. Keduanya memiliki inisiatif yang bisa dijelaskan kepada orang lain sehingga memperoleh dukungan luas dari rakyatnya.