ULAMA, kyai dalam istilah Bugis disebut gurutta. Jika orang luar Sulawesi Selatan mendengar seseorang warga yang menyebutkan gurutta, apalagi anregurutta misalnya gurutta si Ridwan, maka si Ridwan tersebut termasuk kategori ulama yang disegani. Dalam status sosialnya, adalah posisi yang menempati kedudukan terhormat di mata masyarakat.

Gurutta termasuk ahli agama dan mendapat pengakuan dari masyarakat. Namun masih ada posisi yang lebih tinggi dari gurutta yang disebut Anregurutta. Bila dalam istilah gelar akademik, anregurutta itu diibaratkan sebagai professor.

Pemberian gelar gurutta atau anregurutta bukanlah pemberian gelar akedemik tetapi pengakuan dari masyarakat. Masyarakat mengakui keahlian ulama tersebut dalam pemahaman Al Quran maupun Hadits. Tidak semua yang mengajar agama dipanggil sebagai gurutta, tergantung dari tingkat keilmuannya.

Sebagai mubaligh, ada juga yang tetap dipanggil ustadz, yaitu orang yang membawakan khutbah dan ceramah di masyarakat. Namun belum bisa dijadikan sebagai suatu rujukan bertanya berbagai hal keagamaan. Sementara posisi tingkat gurutta ini dijadikan sebagai tempat bertanya berbagai persoalan dan kehidupan secara umum. Ustadz dikenal hanya dalam kelompok kecil, misalnya kelompok pengajian, ceramah-ceramah umum. Sementara gurutta, dikenal lebih luas bahkan lintas wilayah bahkan di luar dari kecamatannya.

Sedangkan gelar Anregurutta lebih tinggi lagi. Ia menjadi rujukan masyarakat, ustadz dan gurutta. Gurutta apalagi anregurutta itu diakui tingkat keilmuannya juga dari pengamalan ilmu yang diketahuinya. Jadi dengan ilmu dan pengamalan ilmunya hingga mendapat pengakuan dari masyarakat. Jadi ulama bukan lahir dari pendidikan akademis, tapi lahir dari masyarakat. Selain itu, masyarakat bugis juga meyakini adanya kelebihan anregurutta berupa karamah, dalam bahasa bugis disebut makaramaq.

Sementara posisi gurutta atau anregurutta dalam dunia politik, tidak memihak. Sebab jika memihak, maka bukan lagi milik masyarakat, tetapi milik sekelompok orang.