BISSU TONANG ARUNG ENREKANG KE. III
KAWIN DENGAN LA PATAU ADATUANG SAWITTO
TIMORENG SADDANG (Abad.XVI)

Bissu Tonang adalah anak perempuan Kota Arung Enrekang II dan Bissu Tonang mempunyai kakak bernama Tomaraju. Pada waktu Bissu Tonang beranjak Remaja, datanglah Pabbicara dan Sulewatang Sawitto ke Enrekang, mereka disambut di istana raja Enrekang oleh Tammulawa Pabbicara Enrekang bersama anggota Hadat dan Tomakaka serta Arung Lili.

Maksud kedatangan mereka (Pabbicara dan Sulewatang Sawitto) ke Enrekang, adalah untuk melamar Bissu Tonang untuk dikawinkan dengan La Patau Adatuang Sawitto Tomoreng Saddang. La Patau Adatuang Sawitto adalah saudara kandung Bau Kuneng Arung Leppangang dan La Potto Adatuang Sawitto Wattang Sadang. Lamaran ini diterima setelah anggota Hadat Enrekang, Arung Lili, dan Tomakaka berunding dengan alasan lebih memperkuat ikatan persaudaraan antara Sawitto dan Enrekang yang telah diikararkan leluhur kita berbuah janji atau sumpah pada abad XV M.

La Patau Adatuang Sawitto Timoreng Saddang memberitahukan adiknya La Potto Adatuang Sawitto Wattang Saddang, bahwa dia akan ke Enrekang kawin dengan anak Arung Enrekang. Kemudian La Potto Adatuang Sawitto Wattang Sadang memberitahukan Arung Jampue, Arung Leppangang, Arung Salo, Arung Bua, Arung Talabangi, Arung Lerang-lerang, Rakyat Akajang, Kalimpoe Tosittoe, Arung Alitta dan Arung Suppa. Arung Alitta dan Arung Suppa kedua lebih dahulu ke Enrekang dengan naik perahu, dan mereka disambut di Enrekang secara adat.

Didalam pesta perkawinan Tammulawa Pabbicara Enrekang mengumumkan bahwa Bissu Tonang sudah resmi menjadi isteri La Patau Adatuang Sawitto Timoreng Saddang dan kita harapkan perkawinan ini tambah memperkuat Basse leluhur kita bahwa Enrekang dan Sawitto bersaudara. Kemudian pabbicara berkata :

“ Marilah kita baharui Basse atau perjanjian leluhur kita Sawitto dan Enrekang bersaudara dan marilah kita pesan kepada keturunan Adatuang Sawitto dan Arung Enrekang bahwa kalau ada diantara mereka kelak berniat jahat atau dengan yang lain akan dikutuk dan disiksa oleh Tuhan di dunia ini ”.

Setelah perkawinan itu, Bissu Tonang bolak balik antara Pinrang dan Enrekang, sampai diangkat menjadi Arung Enrekang ke.III menggantikan ibunya Kota arung Enrekang ke II. Pada waktu Kota Arung Enrekang berumur sekitar 70 Tahun dikumpulkan anggot-anggota Hadat, Arung Lili Tomakaka dan Orang-orang Tua kampung di istananya, lalu diumumkan bahwa Bissu Tonang anak perempuannya yang menggantikan menjadi Arung Enrekang sedang anak laki-lakinya Tomaraju diangkat sebagai Puang di tengah Padang atau Puang di Buttu, pemegang adat Mappura Onro atau Pattaro Tojolo paganna Tomatua.

Kalau dikiaskan Adiknya Bissu Tonang Arung Enrekang ke. III biar nasi masak kalau dia sendiri mengambil dianggap mentah. Akan tetapi nasi mentah kalau kakaknya Tomaraju berikan dianggap masak. Sejak itu mulai jabatan Arung Buttu Enrekang disamping Arung Enrekang turun temurun sampai pertengahan abad XX M.

Arung Buttu selain memegang adat mappura onro diwaktu Tomaraju sebagai Panglima tentara Enrekang membawahi Ponggawa, Manyora, Manyora Lolo, Pangulu Lompo dll. Sampai permulaan abad XX M.

Bissu Tonang Arung Enrekang ke III melahirkan La Mappatunru ArungEnrekang ke. IV dan Maemuna isteri To Kalu Arung Buttu Enrekang ke II sepupu sekalinya.